banner 728x250

Peluang dan Tantangan, Dinamika Ekonomi, Serta Keamanan di Asia Pasifik

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, gen-idn.com – Kawasan Asia dan Pasifik saat ini menjadi episentrum dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia. Persaingan kekuatan besar, transformasi tatanan perdagangan global, serta tantangan keamanan maritim menjadikan kawasan ini strategis sekaligus penuh dengan kompleksitas.

Menyadari hal tersebut, Universitas Paramadina mengadakan General Lecture: Peluang dan Tantangan dinamika ekonomi dan keamanan di kawasan asia dan pasifik bagi Indonesia serta Book Launching: pengantar studi hubungan bilateral China dengan negara-negara di Asia dan Pasifik.

banner 325x300

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian sesi International Conference on Democracy, Prosperity, Sustainability, and Peace: Problems and Prospects yang diselenggarakan Universitas Paramadina bekerjasama dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia yang diadakan pada Kamis (2/10/2025).

Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, Prof. Aleksius Jemadu menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tengah menghadapi kombinasi antara ketidakpastian global dan meningkatnya gejolak geopolitik. Menurutnya, keterlibatan Indonesia di forum BRICS tidak berarti meninggalkan ASEAN yang sejak lama menjadi platform utama diplomasi Indonesia.

“Indonesia akan tetap menjaga ASEAN sebagai jangkar kebijakan luar negeri, namun di saat yang sama juga memperluas jejaring dengan kekuatan besar lainnya. Presiden mendatang dihadapkan pada tantangan serius, baik eksternal maupun internal dan bagaimana dia mengelola kebijakan luar negeri akan sangat menentukan arah Indonesia hingga 2029,” ungkap Prof. Aleksius.

Prof. Aleksius menyoroti perubahan sistem perdagangan internasional yang semakin bergeser dari rule-based menuju deal-based. Pergeseran ini, menurutnya, menuntut Indonesia untuk memperkuat posisi tawarnya dalam negosiasi global. “Ekspor Indonesia ke negara-negara BRICS saat ini didominasi oleh China. Namun, jika dibandingkan dengan G7, Amerika Serikat juga masih memegang peran penting. Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan strategi keseimbangan agar dapat memanfaatkan peluang dari keduanya,” jelas Prof. Aleksius.

Berdasarkan data Lowy Institute (2024), China menempati posisi teratas sebagai mitra dagang Indonesia dengan porsi impor sebesar 24%, sementara Amerika Serikat berada di angka 6,9%. Hal ini menunjukkan bahwa kerjasama ekonomi Indonesia dengan China berada pada fase pendalaman dan perluasan, meskipun keseimbangan dengan mitra lainnya tetap diperlukan.

Prof. Aleksius mengingatkan pentingnya ketahanan pangan dan kemandirian nasional. “Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip hukum internasional dan tidak boleh bergantung penuh pada negara lain dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Di tengah status Indonesia sebagai middle power, kemandirian dan keberanian memainkan diplomasi akan menentukan posisi Indonesia di tatanan global yang penuh ketidakpastian,” tegasnya.

Menyoroti Dimensi Keamanan

Sebagai narasumber, Prof. Anak Agung Banyu Perwita, Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Pertahanan Republik Indonesia menyoroti dimensi keamanan dan persaingan kekuatan di Asia Pasifik. Dia menekankan bahwa mahasiswa Hubungan Internasional harus senantiasa mengikuti dinamika berita global agar mampu membaca arah perkembangan geopolitik.

Menurutnya, China semakin menunjukkan kesiapan di Laut Chia Selatan dan tren belanja militer yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir berkaitan erat dengan kompetisi ekonomi-politik. “Asia Pasifik adalah kawasan yang sangat menarik bagi kekuatan regional maupun eksternal. Ketika berbicara tentang power politics, isu keamanan maritim dan perlombaan senjata menjadi sangat menonjol karena berkaitan langsung dengan perebutan sumber daya strategis seperti nikel, batu bara dan energi,” jelas Prof. Banyu.

Dia juga menegaskan bahwa inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas China merupakan bagian dari strategi besar untuk memenangkan great power competition. Dalam kerangka realisme, kata Prof. Banyu, kerjasama internasional kerap dianggap semu karena persoalan kepercayaan. “Amerika Serikat dan China tidak pernah sepenuhnya percaya satu sama lain. Tiga instrumen utama kebijakan luar negeri China—economic statecraft, diplomasi global dan regional, serta modernisasi militer—menjadi pilar bagi strategi globalnya,” paparnya.

Berdasarkan data Lowy Institute, China kini memiliki kedekatan dan pengaruh yang dominan terhadap sebagian besar negara di Asia Pasifik, sedangkan Amerika Serikat hanya memiliki intensitas kedekatan kuat dengan 3 dari 12 negara di kawasan tersebut. Hal ini menegaskan adanya perubahan lanskap kekuatan di Asia Pasifik.

Kegiatan General Lecture diakhiri dengan momentum peluncuran buku karya Paramadina Asia and Pacific Insitute (PAPI) berjudul “Pengantar Studi Hubungan Bilateral China dengan Negara-negara di Asia dan Pasifik,” yang disunting oleh Peni Hanggarini, Dosen Program Magister Hubungan Internasional Universitas Paramadina. Buku ini membahas secara mendalam kebijakan luar negeri China dengan beberapa negara di kawasan dilengkapi studi kasus terkini yang disusun oleh Peni Hanggarini, Mishka Husen Balfas, Emil Radhiansyah, Hizra Marisa, Bagas Rizky Ramadhan & Alia Rahmatulummah, Rizki Damayanti, Ratih Ariefianti Soeroto dan Suhayatmi, yang merupakan dosen, mahasiswa serta alumni Hubungan Internasional Universitas Paramadina.

“Buku ini diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi mahasiswa, peneliti, akademisi dan para pembuat kebijakan untuk memahami lebih dalam arah hubungan bilateral dan pengaruh China di Asia Pasifik,” tutur Prof. Banyu.

DOT – UP

Peserta sesi International Conference on Democracy, Prosperity, Sustainability, and Peace: Problems and Prospects yang diselenggarakan Universitas Paramadina bekerjasama dengan Unhan. Foto: UP.

Artikel ini sudah terbit di jurnal-idn.com

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *