banner 728x250

Warga Eropa Diperingatkan Untuk Segera Tinggalkan Iran

banner 120x600
banner 468x60

ISTANBUL, gen-idn.com – Sejumlah negara Eropa mengimbau warganya untuk segera meninggalkan Iran di tengah meningkatnya ketegangan keamanan akibat gelombang protes anti-pemerintah, penutupan sementara wilayah udara, serta sorotan internasional terhadap respons aparat keamanan Iran.

Dilansir Anadolu, Italia, Polandia, Jerman dan Spanyol pada Rabu (14/1/2026) mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negara masing-masing. Kementerian Luar Negeri Italia menyebutkan sekitar 600 warga Italia berada di Iran, sebagian besar di Teheran dan secara tegas mengimbau mereka segera meninggalkan negara tersebut.

banner 325x300

Imbauan serupa disampaikan Kementerian Luar Negeri Polandia melalui platform X dengan meminta warga Polandia tidak melakukan perjalanan ke Iran. Pemerintah Jerman juga memperingatkan warganya agar tidak bepergian ke Iran dan mendesak warga yang sudah berada di sana untuk segera meninggalkan negara itu. “Ada risiko penangkapan sewenang-wenang,” demikian pernyataan Kedutaan Besar Jerman di Teheran.

Kementerian Luar Negeri Spanyol menilai situasi keamanan di Iran dan kawasan sekitarnya sangat tidak stabil. Warga Spanyol diminta meninggalkan Iran melalui sarana transportasi yang masih tersedia.

Sputnik melaporkan, di tengah situasi itu, otoritas Iran menutup sementara wilayah udaranya untuk hampir seluruh penerbangan. Berdasarkan pemberitahuan resmi penerbangan yang dirilis Kamis (15/1/2026) dini hari, wilayah udara Teheran ditutup hingga 15 Januari, kecuali untuk penerbangan sipil internasional yang telah memperoleh izin khusus dari otoritas penerbangan sipil nasional.

Pembatasan itu diberlakukan di tengah meningkatnya ketegangan domestik dan regional, termasuk aksi protes anti-pemerintah yang pecah sejak akhir Desember 2025 akibat melemahnya nilai tukar rial Iran, lonjakan inflasi, serta memburuknya kondisi ekonomi rumah tangga.

Kembali Terkendali

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengklaim bahwa gelombang unjuk rasa telah berakhir dan situasi keamanan kembali terkendali. Dalam wawancara dengan Fox News, Rabu, Araghchi menyatakan tidak ada lagi demonstrasi atau kerusuhan dalam empat hari terakhir. “Saya bisa sampaikan bahwa selama empat hari terakhir semuanya tenang. Tidak ada demonstrasi, tidak ada kerusuhan,” ujar Araghchi.

Dia juga membantah laporan mengenai rencana pemerintah Iran untuk mengeksekusi para pengunjuk rasa. “Tidak ada rencana untuk menggantung siapa pun,” katanya..

Gelombang protes di Iran meningkat sejak 8 Januari 2026 setelah Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi Islam 1979, menyerukan aksi demonstrasi terhadap pemerintah. Pada hari yang sama, akses internet diblokir secara nasional, yang menurut otoritas bertujuan menjaga stabilitas, namun dikritik kelompok hak asasi manusia sebagai upaya pembatasan informasi.

Situasi Iran juga menjadi perhatian internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan memantau perkembangan dengan cermat dan mempertimbangkan tindakan lebih lanjut apabila terjadi eksekusi terhadap pengunjuk rasa. Trump sebelumnya juga mengancam akan mengambil “tindakan yang sangat kuat” jika kekerasan terhadap demonstran berlanjut.

Para menteri luar negeri negara-negara G7 turut mengecam penggunaan kekerasan terhadap demonstran dan mendesak Iran untuk menghormati hak asasi manusia. Sementara itu, pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai upaya destabilisasi, tuduhan yang dibantah negara-negara Barat.

NF

Para demonstran Teheran di bawah pemantauan petugas yang berjaga menjaga keamanan. Foto: AP.

Artikel ini sudah terbit di jurnal-idn.com

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *