banner 728x250

Final Four Proliga 2026: Bhayangkara Presisi Tantang LavAni di Grand Final

banner 120x600
banner 468x60

​SEMARANG, gen-idn.com – Juara bertahan Jakarta Bhayangkara Presisi menantang Jakarta LavAni Livin’ Transmedia pada partai puncak Grandfinal Proliga 2026, di GOR Amongrogo, Yogyakarta pekan depan. Kepastian bertemu LavAni di Yogyakarta setelah pada lanjutan laga Final Four di GOR Jatidiri Semarang, Jawa Tengah, Jumat (17/4/2026) mengalahkan Jakarta Garuda Jaya dengan skor 3-0 (25-20, 27-25, 25-19).

Tim besutan Reidel Toiran itu hanya tinggal satu laga lagi melawan LavAni pada laga penutup Minggu (19/4/2026) untuk memperebutkan juara putaran kedua.

banner 325x300

Bhayangkara Presisi memulai laga dengan intensitas tinggi. Mengandalkan kombinasi Agil Angga, Arjuna Mahendra, Martin Atanasov, Bardia Saadat dan pengatur serangan Nizar Zulfikar, mereka memegang kendali permainan. Di sisi lain, Jakarta Garuda Jaya yang mengandalkan Dawuda dan Fauzan Nibras tidak tinggal diam.

​Meski sempat memberikan perlawanan ketat dan membayangi perolehan angka, Garuda Jaya kesulitan menembus pertahanan kokoh Bhayangkara. Tanpa ketergantungan penuh pada Martin Atanasov dan Bardia Saadat, Bhayangkara menyudahi set pertama dengan skor 25-20.

​Memasuki set kedua, pelatih Garuda Jaya, Nur Widayanto, menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain lebih berani. Strategi ini berhasil membuat Bhayangkara Presisi yang banyak menurunkan pemain pelapis kewalahan. Kejar-mengejar angka terjadi hingga memasuki poin kritis.

Garuda Jaya sempat tertinggal 23-24, namun aksi heroik para pemain muda ini berhasil memaksakan kedudukan imbang 24-24. Ketegangan memuncak saat terjadi dua kali deuce. Namun, kematangan eksekusi dari Bhayangkara Presisi akhirnya menyudahi perlawanan Garuda Jaya dengan skor tipis 27-25.

​Awal set ketiga menjadi milik Bhayangkara Presisi sepenuhnya lewat keunggulan cepat 5-0. Garuda Jaya sempat mencoba bangkit dan memperkecil ketertinggalan menjadi 4-8, bahkan sempat menempel di angka 12-14 pada pertengahan set.

​Melihat tekanan dari lawan, Nur Widayanto mengambil time out saat posisi tertinggal 13-16 guna membakar semangat Dawuda dkk. Sayangnya, Bhayangkara Presisi tetap disiplin menjaga jarak skor di angka 21-17. Konsistensi permainan di penghujung laga memastikan kemenangan Bhayangkara Presisi di set ketiga dengan skor 25-19, sekaligus mengunci tiket menuju partai puncak.

Mengatur Tempo Permainan

Kemenangan ini menegaskan dominasi Bhayangkara Presisi di kancah voli nasional. Meski menghadapi perlawanan sengit dari talenta-talenta muda masa depan Indonesia di skuad Garuda Jaya, Bhayangkara mampu menunjukkan kelasnya mengatur tempo permainan di poin-poin krusial.

Pelatih Bhayangkara Presisi, Reidel Toiran menegaskan, meski menang, perjalanan Bhayangkara di laga ini bukan tanpa hambatan. Diakuinya, Garuda Jaya sempat memberikan tekanan hebat, terutama di set kedua. Namun, kematangan mental berbicara. “Saya puas karena tim bermain sesuai instruksi. Meski sempat ditekan hebat di set kedua, anak-anak tetap tenang dan mampu membalikkan keadaan,” ujar Toiran.

Bagi Toiran, tiket final ini adalah langkah awal untuk menuntaskan misi besar: mempertahankan singgasana juara. Menatap laga pamungkas melawan rival berat, LavAni Livin Transmedia, Toiran mengisyaratkan tidak akan tampil “ngoyo” di sisa laga tak menentukan. Dia berencana melakukan rotasi.

“Tujuan awal kami adalah final. Sekarang saatnya memberikan jam terbang bagi pemain muda untuk menjaga kebugaran pilar utama sebelum bentrok di Grand Final,” tambahnya.

Salah satu setter andalan Bhayangkara Presisi, Alvin Daniel, memasang target tinggi untuk mencetak sejarah baru di kompetisi voli kasta tertinggi Indonesia. “Lega rasanya bisa menang hari ini. Fokus kami sekarang adalah mempertahankan gelar dan menciptakan hattrick juara,” tegas Alvin.

Pelatih Garuda Jaya, Nur Widiyanto mengatakan kekalahan timnya menjadi bahan evaluasi serius. Nur Widayanto menyebutkan bahwa kondisi fisik anak asuhnya sebenarnya sedang prima, namun mereka “runtuh” karena komunikasi di lapangan. “Kami sering tertinggal poin karena koordinasi yang belum padu. Ini pelajaran berharga bagi pemain muda kami,” ungkap Nur Widayanto.

Meski gagal ke final, semangat Garuda Jaya belum padam. Sang bintang muda, Dawuda Alahiwassalam, menegaskan timnya akan langsung mengalihkan fokus untuk memperebutkan posisi ketiga. “Kami akan habis-habisan melawan Samator. Kami ingin menutup musim ini dengan kepala tegak,” pungkas Dawuda.

Enda Suranta

Momen adu kekuatan dan ketrampilan antara pemain Jakarta Bhayangkara Presisi (kiri) dengan atlet Jakarta Garuda Jaya. Foto: Humas.

Artikel ini sudah terbit di jurnal-idn.com

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *