Gen-idn.com – LANGIT Jakarta sedang memancarkan kecerahan ketika Ipong Witono menyelesaikan sarapan pagi. Dua cangkir kopi hitam pun seketika tersedia di meja. “Ngobrol sambil ngopi itu memang mengasyikkan,” kata Ipong.
Rabu pekan lalu, saya janjian dengan Ipong tuk menemani dia sarapan pagi di Fraser Place Setiabudi, Jakarta Selatan. Kami tidak bicara hal-hal yang sensitif yang sedang enyelimuti negeri ini. Tapi ngobrol seputar “Analekta Tradisi Perahu Nusantara”; buku yang sebelumnya saya terima yang, dia kirim dari Bandung.
Buku eksklusif setebal 164 halaman itu, tak hanya sekadar catatan tentang tradisi perahu nusantara. Bukan pula dokumentasi teknik dan filosopi pembuatan perahu di berbagai wilayah Indonesia. Tapi lebih jauh dari itu, sejauh perjalanan ekspedisi yang kemudian terangkum dalam buku.
Donny Rachmansyah, sebagai penulis, menelusuri jejak kebudayaan maritim yang mulai langka. Dalam ekspedisi panjang itu, Donny sebagai senior Wanadri dan dibantu Aat Soeratin, menyajikan jenis-jenis perahu tradisional yang telah menjadi cerminan identitas budaya bahari Indonesia.
“Kita sebagai negara yang tiga perempatnya adalah lautan, sudah sepantasnya, masyarakatnya akrab dengan laut. Perahu ini sebagai wahananya dan wahananya ini begitu beragam, suku bangsa di nusantara, ” ujar Donny pada diskusi buku “Analekta Tradisi Perahu Nusantara” di Jakarta International Expo Kemayoran, 13 Pebruari 2026, yang dihadiri Budi Suchari, Litbang Masyarakat Garis Depan Nusantara (MGDN) dan Ipong Witono.
Sambil ngopi pagi, Ipong membuka cerita buku ini yang diawali Ekspedisi Garis Depan Nusantara (EGDN), pada 2008 — 2010, yang bergerak atas “100 Tahun Kebangkitan Nasional” dan memperingati “Hari Deklarasi Djuanda”.
“Melalui ekspedisi, Wanadri bersama Rumah Nusantara, menziarahi 92 pulau terdepan Indonesia. Untaian pulau di tengah lautan yang menjadi penentu batas negara,” jelas Ipong sembari menegaskan, pendataan 92 pulau terdepan tersebut, menempuh 28.545 Km, selama 1.092 hari, di 34 kabupaten dan 19 provinsi.
Ketika Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang dipimpin (alm) Arifin Panigoro dan Ipong sebagai wakil ketua ekspedisi, berakhir, dokumen dan data perjalanan ekspedisi melimpah dan kaya, maka terbentuklah Masyarakat Garis Depan Nusantara (MGDN) yang merupakan inisiasi Wanadri yang berkolaborasi dengan Rumah Nusantara, satu komunitas budaya di Bandung.
Melalui Literasi
MGDN bertujuan mensyiarkan hakekat Indonesia sebagai bangsa bahari melalui literasi, dialog, pameran, maupun aktivitas publik lainnya, ” urai Ipong yang kini menjabat Ketua MGDN.
Buku “Analekta Tradisi Perahu Nusantara” menurut Ipong, adalah wujud ekspresi MGDN, setelah meluncurkan “Tepian Tanah Air”, buku pertama pada 2011 dan sedang merancang “Geladeri Indonesia 111 Pulau Terdepan”, tuk melengkapi trilogi.
“Buku Tradisi Perahu Nusantara adalah salah satu kitab penting bagi masyarakat Indonesia agar memahami kekayaan budaya Nusantara sebagai masyarakat bahari, ” tuturnya.
Ipong Witono — lelaki yang duduk satu meja pada pagi itu, adalah kawan yang menyenangkan, sahabat yang membanggakan. Saya tak pernah ragu memuji, sekaligus menghormatinya. Dia adalah manusia pilihan; cerdas, berani, santun dan rendah hati.
Lahir dengan nama Antonius Harso Waluyo, pada 14 Oktober, di Jakarta — Ipong tak pernah memilih-milih kawan. Pergaulannya luas dan dia membuka pintu hatinya bagi siapa pun. Tidak heran Ipong berteman dengan banyak pejabat di negeri ini.Alumni Fakultas Ilmu Administrasi Unika Atmajaya, hidup Ipong dipenuhi dengan kegiatan sosial, di antaranya, warga kehormatan Wanadri dan Ketua Ekspedisi 7 Summits Indonesia.
Ipong juga giat berorganisasi dan menduduki banyak jabatan komisaris, di antaranya, kursi komisaris PT Dwi Waskita Maju yang masih dia jabat hingga kini. Dia adalah salah satu putra almarhum Letnan Jenderal (Purn) Antonius Josef Witono Sarsanto yang pernah menjabat Pangdam XII Tanjungpura di Pontianak, Pangdam VI Siliwangi di Bandung dan jabatan terakhir sebagai Pangkowilhan III Ujung Pandang.
Meski bisa dikatakan “anak jenderal”, Ipong tidak pernah memanfaatkan keterkenalan atau jasa-jasa Ayahanda tercinta, terutama tuk urusan pergaulan. Ipong, tentu saja, tidak berhenti pada penerbitan buku “Analekta Tradisi Perahu Nusantara”, dia tak akan pernah lelah melangkah sesuai hati nuraninya. Seperti yang dia berulang-ulang tegaskan.
“Tradisi perahu Nusantara memiliki arti sangat penting bagi peradaban bangsa bahari Indonesia sebagai simbol kebudayaan, perdagangan dan penjelajahan,” tutur Ipong.
“Perahu bukan hanya alat transportasi melintasi wilayah kepulauan yang luas, tapi juga sarana ekspedisi, perdamaian dan penyebaran budaya yang telah ada sejak ribuan tahun lalu, ” beber Ipong lagi.
Langit Jakarta tetap cerah ketika kami akhirnya harus berpisah, tuk kembali bertemu. “Obrolan ini tidak boleh berakhir, nanti kita lanjutkan,” Ipong mengingatkan.
YON MOEIS
Yom Moeis (kiri) bersama Ipong.
Artikel ini sudah terbit di jurnal-idn.com


















