banner 728x250

Kementerian UMKM Dorong Pengusaha Madu Masuk Rantai Pasok Program MBG

banner 120x600
banner 468x60

SEMARANG, gen-idn.com – Kementerian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mendorong penguatan peran pengusaha madu nasional untuk mendukung sekaligus masuk rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas dan produktif.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman secara daring pada Konsultasi Pemanfaatan Teknologi dalam Rangka Mendukung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di Semarang, Rabu (9/10/2025), menekankan pentingnya menjadikan madu sebagai alternatif bahan pangan bergizi untuk menu Program MBG.

banner 325x300

“Madu adalah anugerah alam yang kaya manfaat. Kandungan bioaktifnya mampu meningkatkan daya tahan tubuh, memperkuat konsentrasi belajar, dan mempercepat pemulihan kesehatan. Karena itu, madu layak menjadi bagian penting guna membangun generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Menteri UMKM.

Program MBG tidak hanya bertujuan memastikan asupan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga membuka peluang besar bagi penguatan ekonomi rakyat melalui keterlibatan UMKM penghasil madu di rantai pasok nasional. “Melalui forum ini, kita bersama mendorong madu menjadi bagian dari Program MBG sebagai wujud nyata keterlibatan UMKM dalam program prioritas Presiden,” katanya.

Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, menuturkan madu memiliki potensi besar untuk menjadi komponen penting menu MBG berkat kandungan nutrisinya yang kaya energi, vitamin, mineral dan senyawa bioaktif. “Pengintegrasian madu dalam Program MBG tidak hanya memperkaya kualitas gizi, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi melalui pemanfaatan produk lokal yang berkelanjutan,” tukas Temmy.

Namun, dia mengingatkan masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan dan produksi madu nasional. Berdasarkan data Kementerian UMKM, kebutuhan madu di Indonesia mencapai sekitar 7.500 ton per tahun, dengan asumsi konsumsi per kapita sebesar 30 gram per tahun. Sementara produksi nasional baru sekitar 2.000 ton per tahun. “Artinya, masih ada ruang besar untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas madu lokal,” terangnya.

Sebagai langkah konkret, Kementerian UMKM terus mengembangkan pendekatan hilirisasi komoditas unggulan melalui program Rumah Produksi Bersama (RPB) atau Factory Sharing yang telah berjalan di 16 kabupaten/provinsi sejak 2022 hingga 2024.

Melalui program ini, para pengusaha UMKM dapat mengakses fasilitas produksi bersama, pelatihan teknologi dan sertifikasi mutu untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing produk.

Menjadi Produk Unggulan

Kementerian UMKM optimistis dengan hilirisasi yang didukung inovasi dan kolaborasi lintas sektor, madu lokal dapat menjadi produk unggulan yang berdaya saing tinggi, berkontribusi langsung pada program nasional MBG, serta membuka peluang ekspor di pasar global.

“Inovasi dan kolaborasi akan menjadi kunci agar madu Indonesia tidak hanya menjadi konsumsi domestik, tetapi juga dikenal di pasar dunia,” harap Menteri Maman Abdurrahman.

Tenaga Ahli Direktorat Kerja Sama dan Kemitraan Badan Gizi Nasional (BGN), Imam Bachtiar, menegaskan bahwa BGN memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk menyesuaikan penyusunan menu MBG dengan potensi pangan lokal yang ada di wilayah masing-masing.

Pemanfaatan bahan pangan lokal seperti madu, sagu, maupun komoditas khas daerah lainnya dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus memberdayakan pengausaha UMKM agar ikut terlibat rantai pasok MBG. “Apabila potensi lokal di Jawa Tengah, misalnya, adalah madu, maka hal itu dapat dibicarakan dan diusulkan untuk menjadi salah satu menu pendamping MBG,” papar Imam.

Dijelaskan, madu berpotensi menjadi bagian dari menu suplemen Program MBG, sepanjang memenuhi standar mutu dan keamanan pangan. Untuk itu, diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah san seluruh pemangku kepentingan agar pelaksanaannya berjalan optimal.

“Sinergi ini penting agar program tidak hanya sukses dari sisi gizi, tetapi juga berdampak ekonomi bagi pengusaha UMKM lokal,” tuturnya.

Dengan dorongan kuat dari Kementerian UMKM dan dukungan Badan Gizi Nasional, komoditas madu diharapkan dapat menjadi contoh nyata integrasi antara program peningkatan gizi dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Selain memperkuat ketahanan pangan berbasis lokal, langkah ini juga sejalan dengan visi pembangunan nasional untuk menciptakan generasi emas yang sehat dan mandiri melalui sinergi antara pemerintah, dunia usah dan masyarakat.

Erwin Tambunan

Produk madu asli Indonesia yang segera masuk program Makanan Bergizi Gratis untuk menu tambahan. Foto: Humas KemenUMKM.

Artikel ini sudah terbit di jurnal-idn.com

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *