MOSKOW, gen-idn.com – Presiden AS Donald Trump belum mempertimbangkan untuk mengerahkan tim militer ke Iran sebagai bagian dari potensi intervensi Washington, menurut laporan CNN pada Minggu (11/1/2026), dengan mengutip seorang pejabat senior Gedung Putih.
Trump belum membuat keputusan akhir mengenai intervensi, menurut laporan lembaga penyiaran tersebut. Surat kabar The New York Times, mengutip pejabat AS, melaporkan pada Sabtu bahwa Trump telah diberi pengarahan tentang opsi serangan militer terhadap Iran menyusul laporan aksi kekerasan terhadap para demonstran dan presiden AS tengah mempertimbangkan dengan serius untuk menyetujui serangan.
Pada Sabtu, Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, merilis satu video di X yang menyerukan rakyat Iran untuk berunjuk rasa dan menyarankan agar para demonstran bersiap merebut dan menguasai jalan-jalan dan fasilitas yang strategis.
Protes meletus di Iran pada akhir Desember 2025 di tengah kekhawatiran tentang meningkatnya inflasi yang dipicu oleh melemahnya mata uang lokal, rial Iran.
Kenaikan Harga
Para pengunjuk rasa mengeluhkan gejolak nilai tukar yang menyebabkan kenaikan harga grosir dan eceran. Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad-Reza Farzin, mengundurkan diri dan digantikan oleh Abdolnaser Hemmati.
Sejak Kamis, protes semakin intensif menyusul seruan Pahlavi. Sejumlah video di media sosial menunjukkan demonstrasi besar-besaran dan meluas. Pada hari yang sama, internet di Iran mengalami gangguan. Di beberapa kota di Iran, protes berubah menjadi bentrokan dengan polisi.
Para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik pemerintah. Korban jiwa dilaporkan tercatat dari pasukan keamanan dan para demonstran, kata Sputnik.
NF
Aksi unjuk rasa lainnya di negeri Iran. Foto: AP.
Artikel ini sudah terbit di jurnal-idn.com


















