JAKARTA, gen-idn.com – Manajer Tim Indonesia di Kejuaraan Bulutangkis Asia Junior 2026 atau Asia Junior Championships (AJC), Eskar Denatara memetakan hasil penampilan tim Indonesia sepanjang kejuaraan. Meski target yang ditetapkan belum tercapai, AJC 2026 memberi sejumlah catatan penting yang akan menjadi bahan pembenahan dalam persiapan menuju World Junior Championships (WJC) 2026 pada Oktober di Kairo, Mesir.
Menurut Eskar, format pertandingan beregu dengan sistem game 55 poin membuat setiap pertandingan berlangsung sangat dinamis sehingga kemampuan memanfaatkan momentum menjadi faktor penentu.
“Saat menghadapi Korea Selatan di fase grup, anak-anak mampu memanfaatkan momentum dengan baik sehingga berhasil meraih kemenangan. Sebaliknya saat melawan Malaysia dan Thailand, kami kehilangan beberapa poin penting pada momen-momen krusial. Secara kualitas kami mampu bersaing, tetapi lawan tampil lebih tenang karena memiliki pengalaman internasional yang lebih banyak,” ujar Eskar.
Dia menilai secara umum kemampuan teknik, fisik dan mental para atlet sudah cukup baik. Namun, masih ada pekerjaan rumah pada aspek taktikal, ketenangan pertandingan, serta jam terbang di level internasional. “Beberapa atlet bahkan baru menjalani debut internasional di AJC. Pengalaman menghadapi tekanan di pertandingan besar menjadi hal yang harus terus dibangun agar mereka semakin matang,” katanya.
Pada nomor perorangan, Indonesia berhasil menempatkan tujuh wakil di babak perempatfinal, dengan sektor tunggal putra menyumbangkan hasil terbaik melalui Fardhan Joe yang meraih medali perak, meningkat dari perunggu pada edisi sebelumnya.
Power Endurance
Eskar mengurai sektor putri masih perlu meningkatkan kekuatan fisik, khususnya strength dan power endurance, agar mampu bersaing secara konsisten di level Asia. Sementara di sektor ganda putra, kemampuan mengelola tekanan serta mengambil keputusan pada poin-poin penting menjadi fokus pembenahan.
“Sektor ganda putri menunjukkan perkembangan dengan meloloskan dua pasangan ke perempatfinal. Di sektor ganda campuran, pasangan-pasangan non-pelatnas juga mampu memberikan perlawanan yang cukup baik. Namun secara keseluruhan masih banyak detail yang harus kami benahi agar hasilnya lebih maksimal,” jelasnya.
Perkembangan negara-negara lain juga menjadi perhatian. Tidak hanya kekuatan tradisional seperti China, Jepang dan Korea Selatan, negara-negara seperti Hong Kong, Thailand dan Taiwan juga menunjukkan peningkatan yang signifikan sehingga persaingan di level junior Asia kini semakin merata dan kompetitif. “Karena itu kami tidak bisa hanya melihat hasil akhir. Kami harus terus meningkatkan kualitas pembinaan agar mampu mengikuti perkembangan persaingan yang semakin ketat,” tegasnya.
Eskar menyampaikan permohonan maaf karena tim Indonesia belum mampu memenuhi target yang telah ditetapkan.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia karena belum berhasil meraih gelar juara di AJC 2026. Hasil ini tentu menjadi tanggung jawab kami. Ke depan kami akan menjadikan seluruh catatan dari AJC sebagai bahan pembenahan, baik dari sisi taktikal, peningkatan fisik, maupun penambahan jam terbang internasional. Kami berharap para atlet dapat menunjukkan penampilan yang lebih baik pada World Junior Championships nanti,” pungkas Eskar.
NAS
Atlet bulutangkis putra dan putri junior yang tampil di Asia Junior Championships 2026 di Yatushiro, Jepang. Foto: Humas.
Artikel ini sudah terbit di jurnal-idn.com


















