banner 728x250

Sejarah Fasisme dan Koperasi

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, gen-idn.com – Rezim fasis Mussolini di Italia menurut hasil penelitian serius kolega scholar saya Tito Menzani dari Bologna University melakukan tekanan serius terhadap koperasi karena alasan ideologis dan pragmatis.

Pertama, koperasi dianggap sebagai model lembaga perlawanan terhadap otoritarianisme. Kedua, koperasi dianggap memiliki hubungan dengan budaya ideologi-ideologi yang antifasis. Ketiga, salah satu kelompok pendukung fasisme adalah para pemilik usaha kapitalis yang dianggap bertentangan dengan koperasi.

banner 325x300

Perlawanan terhadap koperasi dilakukan melalui empat strategi penting. Pertama adalah kampanye pers yang mencemarkan dan merendahkan koperasi. Kedua, melakukan fitnah dengan hancurkan nama baik aktifis koperasi. Ketiga adalah mengesahkan serangkaian undang-undang yang merugikan koperasi.

Ketakutan dan Kebencian

Propaganda anti-koperasi juga dilakukan oleh kelompok liberal dan konservatif karena keberhasilan ekonomi koperasi menimbulkan ketakutan dan kebencian di kalangan sejumlah kelompok kelas menengah, kelas yang ditujukan untuk menyudutkan bahwa koperasi merupakan model ekonomi yang anti pasar. Mereka menyebarkan pandangan tentang isu “gurita koperativisme milik negara”.

Salah satu tokoh yang terlibat dalam kontroversi tersebut adalah intelektual terkenal Maffeo Pantaleoni. Dalam korespondensinya dengan Charles Gide, dia menulis bahwa para ekonom tidak menyukai koperasi karena menurutnya koperasi telah mengambil uang negara yang sangat besar dari negara dan melakukan praktek yang sangat buruk di dunia bisnis.

Modus operandi perlawanan terhadap koperasi di Indonesia saat ini sepertinya tidak jauh berbeda. Terjadi jalin kelindan kepentingan antara kapitalis global yang tidak ingin negara kita maju dan terus mereka kangkangi dan kepentingan kapitalis konglomerat nasional yang anti demokrasi ekonomi, kapitalis birokrat yang terganggu permainan mereka, serta skolar kelas liberal yang kerjanya memperluas pengaruh dan legitimasi panggung.

Jakarta, 30 September 2026

Suroto

Suroto

Artikel ini sudah terbit di jurnal-idn.com

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *