banner 728x250

Satu Ucapan Seribu Tafsir: Meluruskan Makna Matikan Kompor Usai Masak

banner 120x600
banner 468x60

Gen-idn.com – “YANG penting ibu-ibu jangan sampai lupa, setelah selesai masak matikanlah kompor.” Kalimat bernada satire itu merujuk pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat ditanya wartawan belum lama ini.

Tentu saja publik dibuat terkejut. Rasanya kok terlalu sederhana dan enteng jawaban Menteri Bahlil soal upaya pemerintah menghemat energi sebagai imbas perang Iran-AS/Israel.

banner 325x300

Pengunggah kalimat itu di medsos mengutip ucapan Bahlil secara tidak utuh. Tidak dikaitkan dengan konteks penjelasan sebelumnya, tetapi ucapan tersebut dipenggal dan penggalan itu ditafsirkan secara liar.

Dan rasanya Anda sudah menerima kiriman guyon berbagai versi netizen yang sudah terlanjur beredar luas itu. Meski wartawan yang pertama kali mengutipnya sudah minta maaf dan mengakui kekeliruannya menafsirkan kalimat sang Menteri.

Memang statement Menteri yang satu ini selalu “agak laen” dan enak dikutip oleh media–quotable. Sosoknya tidak pelit informasi dan menghindar ditodong wawancara. Bicaranya pun ceplas-ceplos.

Tentu Anda masih ingat peristiwa saat ada wacana yang minta agar para menteri naik angkutan umum, Menteri Bahlil dengan enteng nyeplos: “Jangan ajari saya cara naik angkutan umum”.

“Dua Tahun Jadi Sopir Angkot”

Tak hanya itu, “Saya ini dua tahun jadi kernet angkot dan dua tahun lagi jadi sopir angkot,” tambahnya.

Bahkan saat dirinya kuliah di universitas-yang tidak ada dalam Google-pun Bahlil masih merangkap jadi sopir angkot di Papua.

Di era medsos, setiap ucapan begitu masuk jagat maya, maka kalimatnya berpotensi berubah nasib. Apalagi bila datang dari publik figur. Dipotong. Digeser. Diberi bumbu. Lalu lahirlah versi baru. Yang nadanya sedikit menyindir. Sedikit menohok. Kadang jauh dari maksud awal. Tapi justru itu yang cepat menyebar.

Tak sampai di situ. Datang gelombang berikutnya. Kalimat itu dijadikan template. Bisa dipakai untuk apa saja. Dari urusan serius sampai soal gorengan, Versi guyon, yang paling laris.

Rupanya perang yang pecah di Timur Tengah, yang telah memasuki 40 hari lebih, bukan hanya soal rudal yang menghancurkan sasaran. Dia juga soal narasi yang meledak lebih cepat dari asap. Informasi datang dulu, verifikasi belakangan.

Ada paradoks: makin canggih teknologi, makin besar ruang spekulasi. Satu ledakan, seribu tafsir. Publik global seperti hakim tanpa berkas perkara. Putusan emosional keluar lebih cepat dari fakta.

Rusman Madjulekka

“Jangan ajari saya cara naik angkutan umum”. Foto: RM.

Artikel ini sudah terbit di jurnal-idn.com

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *